Hujan Bulan Juni

Harus diakui, akhir-akhir ini saya agak down. Banyak kejadian tak terduga yang menuntut kesabaran, dan kebijaksanaan ekstra. Mulai dari masalah kesehatan orang tua dan simbah yang semakin menurun, kabar duka meninggalnya Pak De yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri, dan beberapa rencana jangka panjang yang gagal. Semuanya diluar kendali saya.

Rentetan kejadian-kejadian itu datang bertubi-tubi tanpa jeda. Terkadang datang berhimpitan dan tak terduga. Kondisi tersebut, ternyata banyak menguras energi dan pikiran. Cobaan bertumpuk-tumpuk yang menguji kesabaran,daya tahan dan kejernihan berpikir dan kematangan.  Dada rasany sedikit sesak setiap mengingat beberapa kejadian yang telah dan sedang terjadi.

Orang bijak pasti akan memberi nasehat "bersabarlah....ini cuma kerikil kecil kehidupan". Syukurlah hingga detik ini masih diberi kekuatan dan kesabaran melewati "kerikil-kerikil kecil" tersebut. Kalau boleh menggambarkan kondisi saat ini, rasanya mirip dengan puisi "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Joko Damono. Begini kira-kira bunyi puisi Sapardi tersebut:

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

No related posts.

7 Responses to “Hujan Bulan Juni”

Leave a Reply

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Categories
Archives
TopOfBlogs
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes