Kekerasan (lagi?)
June 3, 2008 – 2:41 pm | by sofyanrBeberapa hari yang lalu, saya membaca berita tentang aksi brutal di Monas yang mengakibatkan beberapa orang luka dan sejumlah kerugian material yang belum sempat dihitung. Dari cuplikan berita TV yang saya lihat, beberapa mobil rusak akibat aksi ini. Beberapa orang mengalami luka berat dan ringan. Berbagai media ramai-ramai menjadikan headline berita. Secara pribadi, saya sudah muak dengan berita semacam ini dan cara pemberitaan media yang senantiasa diliputi euforia.
Feeling saya mengatakan ini sebuah skenario untuk mengalihkan perhatian dari isu utama beberapa minggu kemarin akibat dampak kenaikan BBM beberapa waktu lalu. Jujur kalau kita bisa berpikir jernih, dampak riil kenaikan BBM jauh lebih hebat dari aksi demo dan huru hara di Monas yang gak bermutu itu. Bukan maksud saya menganggap enteng kasus Monas. Tapi dengan adanya kasus ini, secara tidak sadar kita telah digiring untuk “melupakan” isu yang lebih penting, isu yang menyangkut seluruh rakyat Indonesia
Kenyataannya, isu tentang BBM melibatkan ratusan juta nyawa, sedangkan peristiwa Monas hanya melibatkan segelintir pihak, dan itu sekali lagi hanya terjadi di Jakarta. Bandingkan dengan dampak harga minyak yang sangat komplek: inflasi, kanaikan harga sembako, teknis BLT yang banyak celah, kesenjangan sosial yang timbul dll.
Kalau pemerintah memang serius, kasus Monas bisa di selesaikan dalam waktu singkat. Soal pembubaran organisasi tertentu itu gampang banget kalau pemerintah punya niat. Jadi menurut saya, ini hanya akal-akalan pihak tertentu untuk memindahkan fokus kita dari masalah yang sebenarnya. Sekarang makin jelas, kejadian Monas berlatarkan perselisihan antara satu kelompok dengan kelompok lain. Dan saya kira banyak pihak, termasuk media cukup pandai membaca situsi ini
Inti permasalahannya adalah, apakah kita sadar kalau kita diperdaya dengan kasus kekerasan Monas atau tidak. Perkiraan saya, tidak akan ada solusi apapun terkait dari kasus ini seperti kasus yang sudah-sudah karena memang tidak ada niat untuk menyelesaikannya secara tuntas. Tuntutan dari berbagai lapisan masyarakat untuk membubarkan FPI sepertinya tidak mempengaruhi pemerintah dalam bersikap. Argumen yang dibangun adalah, “pembubaran (FPI) tidak menjamin Indonesia bebas dari aksi kekerasan dan vandalisme”
Kenyataannya, kekerasan itu sama tuanya dengan sejarah manusia seperti yang sempat saya singgung di sini. Jadi Argumen pemerintah yang belum juga memberikan putusan tegas sungguh alasan yang basi banget. Saya yakin, kekerasan akan selalu hadir dalam hidup manusia. Tapi, bukan itu inti permasalahannya. Bahwa setiap pelaku tindak kekerasan dan pelanggaran hukum wajib ditindak tegas, apapun itu alasannya.
Atau jangan-jangan pemerintah sudah menjalin hubungan mesra dengan pihak tertentu dibalik kerusuhan Monas karena keduanya saling membutuhkan?
Tags: aksi, FPI, kekerasan, vandalisme





6 Responses to “Kekerasan (lagi?)”
By kian on Jun 4, 2008 | Reply
feeling saya…ah ga pake feeling2an lah..
hidup ,cintaaa!!!
By joyo (males login) on Jun 4, 2008 | Reply
saya lega FPI kena batunya,
soal BBM no komeng
By sofyanr on Jun 4, 2008 | Reply
@ kian cinta juga harus pake feeling
@ joyo membayangkan FPI di grudug massa…
By ogi on Jun 4, 2008 | Reply
FPI emang pantas disikat aja, ga berpendidikan
By sofyanr on Jun 5, 2008 | Reply
@ ogi Pantas disikat seperti juga para penipu. Hajar….
By dindin on Jun 6, 2008 | Reply
kalo saya menyebut media-media tersebut, “media yang lugu”, kata “naif” juga boleh…hehe.. sampe2 terbawa arus kejadian dengan sangat mudahnya atau memang media sudah sedemikian terjerat kebutuhan hidupnya sendiri ? (berebut rating, berebut popularitas dst) atau memang sudah diniatin berkolaborasi dengan penguasa seperti itu… ?
dari kejadian itu kan jelas, seperti apa sih Forum kebebasan bla..bla..bla.. , FPI, media dll itu ? siapa sih yang mereka perjuangkan ? korban kenaikkan BBM kah ? saudara2 saya sebangsa, orang2 tua saya sebangsa yang berjuang antri BLT ? atau ibu-ibu saya sebangsa yang sulit memperoleh minyak tanah, gas dan sudah pasti sulit memperoleh budget dapur yang cukup.. Atau memperjuangkan kualitas hidup kita yang semakin merosot ?
Silahkan direnungi jawabannya…?