Keluar dari arus mainstream
| September 18, 2009 | Posted by sofyanr under coretan, Jurnal Pribadi |
Salah satu tantangan terbesar bagi para pekerja freelance adalah bagaimana cara menentukan posisi dan kemudian keluar dari persaingan yang makin ketat. Keluar dari persaingan bukan berarti keluar dari bisnis. Buku Blue Ocean Strategy saya kira cukup mewakili apa yang saya maksud, yaitu kita selalu di tuntut untuk berpikir kreatif dan tidak ragu untuk menciptakan inovasi baru yang mungkin luput dari perhatian.
Berusaha memenangkan persaingan diantara freelancer memang penting, tapi menurut saya hal itu akan semakin sulit diwujudkan. Bukan rahasia, persaingan antar freelancer dibidang yang sama makin hari makin ketat. Tiap hari, ratusan atau bahkan ribuan freelancer baru terus bermunculan. Itulah konsekuensi yang harus kita hadapi. Selalu bersaing satu sama lain dalam perlombaan untuk menjadi pemenang. Dan kenyataannya, persaingan makin tahun makin ketat. Memenangi setiap kompetisi dan persaingan menjadi semakin susah.
Pernahkan Anda membayangakan bahwa suatu saat, persaingan mencapai titik jenuh. Semua orang menawarkan layanan yang sama atau mirip. Dalam kondisi seperti ini, siapakah yang diuntungkan? Satu jawaban pasti yang bisa saya kemukakan adalah freelancer dalam kondisi yang terancam. Posisi tawar menjadi rendah mengingat banyaknya pemain di area yang sama. Rawan menimbulkan praktek dan persaingan bisnis yang tidak sehat. Di sisi lain, Buyer semakin diuntungkan karena mempunyai banyak alternatif pilihan dan posisi tawar yang semakin tinggi. Akibatnya, antar freelancer saling sikut dan kalau perlu saling mematikan untuk memenangkan sebuah persaingan.
Dalam buku Blue Ocean Strategy secara jelas dipaparkan bahwa bersaing di Red Ocean dengan persaingan yang berdarah-darah sangat tidak mengutungkan, bahkan untuk perusahaan mulinasional sekalipun. Setiap pihak harus mengeluarkan pengorbanan lebih besar untuk memenangkan persaingan. Oleh karena itu, idealnya para freelancer harus bisa mulai berpikir dan bergerak berpindah dari Red Ocean menuju area Blue Ocean, di mana persaingan menjadi tidak relevan karena kondisi pasar yang belum jenuh atau bahkan masih baru.
Tidak mengikuti arus mainstream tidak secara otomatis menjadikan kita sebagai pengecut yang lari dari persaingan. Dengan tidak mengikuti arus mainstream memungkinkan kita berpikir lebih jernih, tampil beda dan menonjol serta punya posisi tawar yang lebih baik. Dan pada akhirnya akan menjadikan kita sebagai pembuka jalan sekaligus sumber inspirasi bagi yang lain.
Google, Youtube, Paypal, Ebay, Rapidshare, Wikipedia, Yelp, Facebook dan masih banyak contoh lain telah membuktikan bahwa tidak bermain di arus mainstream adalah pilihan tepat. Paling tidak hingga saat ini. Bagaimana dengan Anda? Sudah siapkah Anda mengarungi samudera baru?
Salam
This is the default footer layout. You can easily add or remove columns in the footer.
edun juragan mulai nulis freelance
kasih tips tips yg lebih paten dung bos
aku melu freelance nya dunk…
*coba kalo nyampah di milis ada yang model freelance*
nganu…carane keluar dari mainstream itu sendiri bagaimana? Apakah dengan kreatifitas itu saja udah cukup? Lantas, jika semua orang mulai mengubah jalur dan keluar dari mainstream itu sendiri, siapa nanti yang mengerjakannya?
Mau gimanapun caranya, tetap akan ada yang jadi pemrakarsa dan pekerja, kan? Ini kan termasuk Hukum Seleksi Alam :p
*mbuh ngomong opo aku ?*
wah udah maenin kata kunci dalam postingan….
*** Males Login ***
Didut Tenang, masih banyak jurus yang belum keluar…
Mursid Banyak lho yang menawarkan pekerjaan ngejunk di milis, forum, atau nyepam komen di blog. Kalau ndak percaya silakan cari info sendiri dan Anda akan terpana, ternyata banyak pekerjaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya tetapi ada yang membutuhkan
Ocha Silakan cari formula yang paling tepat. Tiap orang punya jalan dan proses yang berbeda
yang penting nyaman aja…
menunggu terbitnya buku “menjadi freelancer abal-abal” karangan sopyan jamil…
Siiippp… mangstab!
saya juga sedang berusaha begitu…
pokoke wani njajal lan wani rugi..
tulisane apik tenan… salut deh..
*eh copas songko ngendi
*
peselancar hrus bisa menghadapi tantangan gelombang sembari menikmati segarnya air laut
Yang penting sesuai dengan hati nurani