Manusia Biasa
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mengenang Kartini (bagian kedua)

April 21, 2008 – 4:41 pm | by sofyanr

Riwayat Kartini, seperti yang saya tulis di sini, memang penuh paradoks dan ironi. Tulisan-tulisan Kartini juga banyak memuat anakronisme; suatu hal yang bisa dipahami mengingat dia cuma perempuan berusia duapuluhan (saat ia mulai menulis) yang hanya lulusan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri.

Saat peluangnya belajar ke Eropa pupus sudah, dengan tulus ia meminta kepada pemerintah kolonial agar mengalihkan beasiswa untuknya kepada seorang pemuda Sumatera yang cakap dan pandai tapi kekurangan biaya. Ironisnya, pemuda Sumatera yang dikemudian hari kita kenal sebagai H. Agus Salim, justru menolak tawaran beasiswa tersebut. Bagi Salim, beasiswa itu tak lebih sebagai pernyataan belas kasihan yang menyedihkan, selain sebagai strategi kolonial untuk mengkampanyekan keberhasilan politik etisnya.

Tetapi saat menjadi istri Bupati Rembang itulah Kartini justru bisa merealisasikan sebagian cita-citanya untuk menyediakan pengajaran bagi perempuan bumiputera. Sang Suami memang dikenal sebagai bupati yang sudah berpikiran maju dan mendukung ide-ide Kartini. “Saya mengucap syukur, membiarkan saya dibimbing oleh seorang yang ditunjukkan oleh Allah Yang Mahakuasa menjadi kawan saya seperjalanan menempuh hidup…,” tulisnya kepada keluarga Abendanon. Lupakah Kartini pada ucapan telengasnya tentang perkawinan paksa dan poligami dahulu? Entahlah.

Tapi tragika belum tuntas sampai di situ. Saat sedang berbahagia menjadi istri kesekian lelaki yang berpikiran maju, lelaki yang mendukung sebisanya cita-cita dirinya, Kartini harus menjalani kodrat biologisnya sebagai perempuan: mengandung, lalu melahirkan. Dan, petaka itu pun datang: lima hari setelah melahirkan, Kartini pupus, selamanya pergi meninggalkan Jawa yang ia cintai sekaligus ia benci “setengah mati-separuh hidup” sebagian tradisinya itu.

Meski begitu, zaman ini memang layak memberinya hormat, sebuah standing ovation yang tulus. Bukan untuk kehebatannya, tapi untuk sebuah “keyakinan yang dipercayai dan kemudian ia perjuangkan”, sekalipun ia mengerti betapa tak terpermanainya hambatan dan kesukaran yang akan dihadapinya.

Ia tahu benar, di Jawa, perempuan sungguh-sungguh terbenam di titik subordinasi yang paling rendah. Ikhtiar untuk mengentaskannya tentu butuh waktu panjang, dan maha sukar. Tapi ia tetap melangkah. Ia seakan lantang teriak: “Harus ada yang memulai pengajaran bagi perempuan bumiputera, dan itu adalah saya, seorang perempuan bumiputera juga!” Di situ, Kartini sudah bicara tentang kewajiban perempuan bagi kaumnya.

Pernah suatu hari, seorang pejabat kolonial menyayangkan kenapa Kartini seorang perempuan, padahal jika lelaki ia bisa berbuat lebih banyak. Kartini tampak marah besar. Bukan apa-apa, sebab bagi Kartini, “Pada mulanya dan pada akhirnya, saya memang seorang perempuan. Lengkapnya perempuan Jawa yang tertindas.”

Memikirkan hal itu, saya Ingat Simone de Beauvoir. “Jika saya ingin mendefiniskan diri,” tulis Beauvior di risalahnya yang termasyhur, Second Sex, “hal pertama yang harus saya katakan: Saya adalah seorang perempuan!”

Karena semua alasan itulah kita dengan senang hati merayakan kelahirannya, juga segala jerih-payah yang telah ditorehkannya; sebuah torehan kerja yang membikin Pramoedya, lewat Panggil Aku Kartini Saja, memberi Kartini predikat sebagai “Pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin”.

Lalu saya ingat lagu Ibu Kita Kartini-nya W.R. Supratman. Tapi, apa benar Kartini itu ibu kita semua? Jika benar, sudahkah kita menjadi anaknya yang berbakti? Atau, hari ini kita memang tak butuh ibu lagi?

Tags: , ,

  1. 1 Trackback(s)

  2. May 22, 2008: Hari Kebangkitan Nasional | Seorang Blogger

Post a Comment