Home » coretan » Serat Kekancingan

Serat Kekancingan

Sebut saja tokoh dalam ceritera ini si X. Suatu waktu Si X dibujuk-paksa oleh Pamannya dari Jakarta untuk mengurus Serat Kekancingan di Kraton Jogja. Semula ia heran dengan istilah aneh itu. Jelas, istilah ini sangat kental dengan nuansa Jawa. Sebagai orang Jawa, Si X agak sedikit paham siratan maknanya, walaupun masih sangat ragu-ragu. Sebab bisa jadi sebuah idiom mempunyai interpretasi makna yang bersayap. Tapi buat apa ke Kraton segala? Lantas, sebagai apa ia ke sana? Sebagai seorang Abdi, seorang pesuruh, seorang delegator, atau hanya seorang wisatawan?

Ketika mendengar jawaban pamannya yang berapi, Si X yang ndugal dan ngeyelan, malah menjadi miris dan cenderung prihatin dengan arah perbincangan dan pilihan sikapnya itu. Ternyata, wahai pembaca yang budiman, Si X diajak ke Kraton dengan status sebagai saudara-sedarah-seketurunan. Intinya, mereka dipersilakan datang ke Paseban Agung sebagai trah asli kraton. Menurut runutan sejarah, keluarga mereka termasuk dalam anak turun Tumenggung Alap-Alap, dan pusat pohon keluarganya adalah Sultan HB II. Modar! Betapa ambruk seluruh relung kesadaranmya! Batinnya langsung merutuk, lelucon badut mana lagi ini? Prek! Masa’ seorang gentho mrongos seperti X pantas diperlakukan sebagai tamu terhormat di wilayah ningrat?

Sebelumnya perlu saya jelaskan, pembaca yang budiman. Jika Anda seorang Jawa Proletar-Sudra-Pinggiran, ditambah lagi termasuk dalam golongan manusia modern (pikiran maupun perilakunya), tentu tidak paham dengan istilah ini. Atau, bisa jadi akan geli ketika mendengar istilah Serat Kekancingan itu. Memang, secara harfiah, serat adalah surat (bisa resmi bisa tidak) atau monumen prasasti berbentuk tulis (Serat Jayabaya, Serat Ronggo Warsito, Serat Sakondar, dsb). Lalu, arti dari kekancingan adalah terkunci. Melihat arsitektur harfiahnya, jelas idiom ini tidak bisa ditafsirkan langsung secara letterlijk. Apakah dalam bahasa Indonesia menjadi surat terkunci? Pasti remuk dong maknanya. Tafsirnya harus memakai interpretasi bersayap.

Kebenaran maknawi istilah itu, adalah surat resmi yang diperuntukkan bagi orang yang masih memiliki pertalian darah dengan kraton. Surat resmi itu berfungsi sebagai sistem pencatatan garis keturunan keluarga Kraton. Sederhananya, semacam kebijakan Kraton yang berupaya untuk mengayomi seluruh keturunan Ngarso Dalem sejak Hamengkubuwono I, agar kesejahteraan mereka tercukupi, dan kehidupannya terhormat secara sosial. Dari sini kita bisa mengaitkan dengan arti letterlijk tadi, bahwa yang dimaksud terkunci di sini bukanlah berarti sama dengan tersekap atau tersembunyi, melainkan proses penguncian (penjagaan) dari perkembangan garis keturunan darah di Kraton Yogyakarta maupun Solo. Tujuannya, adalah mengetahui silsilah lengkap keluarga Kraton mutakhir.

Walaupun telah mengetahui maknanya secara total, dasar mental gentho mrongos, X tetap tak terlalu menggubris ajakan Pamannya. Padahal tujuan Serat Kekancingan juga, baik memberikan pengayoman. Sehingga di hadapan Pamannya yang selama ini ia anggap orator ulung, X selalu mendukung dan mengiyakan pilihan sikapnya. Di sisi lain, jiwa si X sebenarnya menolak sepenuhnya. Yah, namanya juga orang munafik, ditambah lagi orang Jawa tulen; ketika hatinya berseberangan, tetap saja menampakkan yang baik. Takut kalau pamannya tersinggung. Lantas bagaimana lagi, jika X yang sejak kecil sudah tercelup dalam budaya Pasemon yang akut? Celakalah dirinya yang telanjur terkungkung dalam struktur ‘budaya bersayap’ dengan tatanan yang dibuat buram, abu-abu, serba takut (sopan), dan penuh dusta?

Sejenak X sedih dengan laku kebohongan hidupnya. Namun, tiba-tiba terlintas kenangan tentang Gibran; manusia bersifat seperti rembulan, pada wajahnya yang disoroti cahaya, ia nampak indah, namun pada bagian punggungnya yang kelam, ia tampak mengerikan, jahat, dan bengis. Bukan berarti ungkapan Gibran merupakan common sense, namun harus diakui bahwa manusia memiliki potensi jahat dalam dirinya. Hanya kadar pengendaliannya yang satu sama lain berbeda. Lewat kenangan itu, saya jadi sedikit terhibur, bahwa saya masih belum sesempurna setan.

Kalau dipikir, betapa tolol X ini! Betapa enaknya hidupnya kalau mau mengurus Serat Kekancingan. Pasti ia akan dipanggil Raden Ngabehi, istrinya esok akan dipanggil Raden Nganten, anak-anaknya nanti juga akan mendapat gelar tak kalah terhormat, dilibatkan dalam acara-acara Kraton, ditinggikan martabatnya oleh pihak Kraton, bahkan menurut kabar; yang mengurus Serat Kekancingan akan mendapat tanah cuma-cuma bersertifikat lengkap untuk tempat tinggal. Betapa hidupnya akan mendapat secuil surga!

Tapi ia tak kuat menerima anugerah demikian. Sebab, seorang priyayi itu harus ampuh dalam hal menahan diri, menyembunyikan arus batinnya yang asli, serta mengontrol gejolak apapun dalam dirinya. Sedang sifat dasar si X sangat lekat dengan dunia pinggir jalan. Lebih suka cuwawakan, kadang berkata kotor, pemarah, suka main kartu, dan suka suit-suit kepada perempuan yang lewat. Wahai pembaca yang budiman, apakah pantas gentho mrongos seperti kawan saya ini memilih jalan hidup ningrat? Terlebih lagi si X telanjur diracuni dengan ideologi yang menolak feodalisme. Bukankah jelas, jika X sampai mau menuruti pamannya, berarti telah melanggengkan laku diskriminasi?

Semoga saja si X ini tidak menyesali keputusannya untuk mengabaikan serat kekancingan. Paling tidak hingga tulisan ini saya publikasikan :p.

Incoming search terms:

[silsilah kraton jogja][kekancingan][contoh serat kekancingan][surat kekancingan][Salasilah trah raden pituruh com][silsilah keraton jogjakarta][serat kekancingan][Trah pituruh raden com][pengertian serat jawa][contoh surat kekancingan][serat kekancingan raden][silsilah keraton yogyakarta][silsilah lengkap keraton yogyakarta][silsilah kraton yogyakarta][silsilah keraton solo][silsilah kraton ngajogjokarto][silsilah keturunan hb ke 2][silsilah keturunan hb][silsilah raden di jogjakarta][silsilah tumenggung alap alap][tumenggung alap alap][tuladha layang kekancingan][trah-trah com][Trah sultan jawa pituruh com][trah keturunan hamengku buwono x][trah hamengkubuwono Vii][Trah hamengkubuwono II][syarat pengurusan kekancingan kraton yogya][surat silsilah yogyakarta][silsilah tumenggung alap-alap][tumenggung alap-alap][silsilah keluarga keraton solo][silsilah Keluarga Besar Hamengkubuwono II][makalah ningrat][keturunan hamengkubuwono ii][keraton yogyakarta silsilah][kekancingan keturunan kraton jogja][garis besar silsilah keturunan keluarga hamengku buwono I sampai dengan hamengku buwono X][garis besar silsilah keturunan hamengku buwono][draft serat kekancingan][cara mengurus kekancingan][arti surat kekancingan][arti keraton yogyakarta][mengurus kekancingan][mengurus silsilah di kraton solo][silsilah hamengkubuwono ii][serat kekancingan web][serat kekancingan keraton solo][Salasilah pituruh com][salasilah keraton solo][pohon silsilah kraton jogja hb 2][pohon keluarga keraton yogyakarta][Persatuan keturunan keraton yogyakarta][pengertian serat jawa adalah][mengurus silsilah keraton jogja][alap alap kraton yogyakarta]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>