<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Web Design Indonesia&#187; Indonesia, Web Developer, Web Designer, Freelance Web Designer, Web Consultant, SEO Services, Wordpress Template, Web Template</title>
	<atom:link href="http://www.sofyanr.com/tag/coretan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sofyanr.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 14:20:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hujan Bulan Juni</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/hujan-bulan-juni.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/hujan-bulan-juni.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 14:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sofyanr.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Harus diakui, akhir-akhir ini saya agak down. Banyak kejadian tak terduga yang menuntut kesabaran, dan kebijaksanaan ekstra. Mulai dari masalah kesehatan orang tua dan simbah yang semakin menurun, kabar duka meninggalnya Pak De yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri, dan beberapa rencana jangka panjang yang gagal. Semuanya diluar kendali saya.

Rentetan kejadian-kejadian itu datang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fhujan-bulan-juni.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fhujan-bulan-juni.html" height="61" width="51" /></a></div>Harus diakui, akhir-akhir ini saya agak down. Banyak kejadian tak terduga yang menuntut kesabaran, dan kebijaksanaan ekstra. Mulai dari masalah kesehatan orang tua dan simbah yang semakin menurun, kabar duka meninggalnya Pak De yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri, dan beberapa rencana jangka panjang yang gagal. Semuanya diluar kendali saya.<span id="more-364"></span>
<br /><br />
Rentetan kejadian-kejadian itu datang bertubi-tubi tanpa jeda. Terkadang datang berhimpitan dan tak terduga. Kondisi tersebut, ternyata banyak menguras energi dan pikiran. Cobaan bertumpuk-tumpuk yang menguji kesabaran,daya tahan dan kejernihan berpikir dan kematangan.  Dada rasany sedikit sesak setiap mengingat beberapa kejadian yang telah dan sedang terjadi.
<br /><br />
Orang bijak pasti akan memberi nasehat "bersabarlah....ini cuma kerikil kecil kehidupan". Syukurlah hingga detik ini masih diberi kekuatan dan kesabaran melewati "kerikil-kerikil kecil" tersebut. Kalau boleh menggambarkan kondisi saat ini, rasanya mirip dengan puisi "<strong>Hujan Bulan Juni</strong>" karya <strong>Sapardi Joko Damono</strong>.  Begini kira-kira bunyi puisi Sapardi tersebut:<em><strong></strong></em>
<br /><br />
<em><strong>tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu</strong></em>
<br /><br />
<em><strong>tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu</strong></em>
<br /><br />
<em><strong>tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu</strong></em>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/hujan-bulan-juni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemana lagu anak-anak kita?</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/kemana-lagu-anak-anak-kita.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/kemana-lagu-anak-anak-kita.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 04:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sofyanr.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Jujur saya bukan pengamat musik yang baik. Bukan pula kritikus musik yang layak dijadikan narasumber. Tapi setelah memperhatikan industri musik Indonesia yang makin semarak, ada satu hal yang membuat saya kecewa berat.
Soal jumlah album yang dirilis dan besarnya perputaran modal sangat menjanjikan. Tapi ya cuma sebatas itu saja. Kuantitas yang banyak, tiap bulan ada band [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/jangan-biarkan-dangdut-gulung-tikar.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan biarkan dangdut gulung tikar'>Jangan biarkan dangdut gulung tikar</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/sapa-hangat-einstein-kepada-anak-dunia.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sapa Hangat Einstein kepada Anak Dunia'>Sapa Hangat Einstein kepada Anak Dunia</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fkemana-lagu-anak-anak-kita.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fkemana-lagu-anak-anak-kita.html" height="61" width="51" /></a></div><p style="text-align: left;">Jujur saya bukan pengamat musik yang baik. Bukan pula kritikus musik yang layak dijadikan narasumber. Tapi setelah memperhatikan industri musik Indonesia yang makin semarak, ada satu hal yang membuat saya kecewa berat.<span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align: left;">Soal jumlah album yang dirilis dan besarnya perputaran modal sangat menjanjikan. Tapi ya cuma sebatas itu saja. Kuantitas yang banyak, tiap bulan ada band atau artis baru, keuntungan yang diperoleh produser makin besar. Selebihnya, saya tidak bisa menikmati perkembangan musik sebagai hiburan karena segmentasi pasar yang semakin mengerucut.</p>
<p style="text-align: left;">Era 80-an hingga pertengahan 90-an bisa dibilang keemasan lagu anak-anak. Hampir tiap tiap hari acara TV dan radio kita disuguhi lagu anak-anak. Tapi setelah tahun 2000 kondisi jadi berubah total. Sangat sulit menemukan lagu anak-anak yang baru. Berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun saya tidak bisa menemukan lagu anak-anak yang baru dirilis . Dulu, Papa T Bob begitu berkibar-kibar dengan lagu “Di obpk-oboknya” Joshua, kini ia dan lagu-lagu anak-anak seakan menghilang dari peredaran</p>
<p style="text-align: left;">Yang makin membuat saya gerah adalah munculnya acara TV seperti Idola Cilik, AFI junior dan kontes-kontes menyanyi anak di berbagai acara dan pagelaran. Ironisnya, dari sekian banyak peserta yang kontes, tak lebih dari 5% yang menyanyikan lagu anak-anak. “Ini kan kontes menyanyi anak-anak, tapi kok gak ada lagu anak-anaknya?”</p>
<p style="text-align: left;">Bukan hal yang salah jika anak-anak <span id="lw_1210652902_0" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Indonesia</span> kini lebih suka menyayikan lagunya Andra and The BackBone, Ungu, ST12, Kamu ketahuannya Mata dll. Tapi saya hanya merasa risih dengan cara menyanyi anak-anak yang masih lucu-lucu itu. Dengan suara yang cadel mereka melantunkan lagu Kamu Ketahuannya Matta Band dengan penuh percaya diri. Saya sering merasa geli, gembira tapi juga prihatin.</p>
<p style="text-align: left;">Geli karena mereka belum bisa melafalkan syair dengan benar dan cadel. Gembira karena mereka bisa menyanyi dengan penuh kegembiraan dan percaya diri yang tinggi. Prihatin karena lagu yang mereka nyanyikan menurut saya belum saatnya untuk mereka dendangkan. Yang pas buat mereka ya lagu ciptaan Papa T Bob, Ibu Kasur, dll.</p>
<p style="text-align: left;">Kok rasanya janggal dan aneh kalau anak-anak usia di bawah 7 tahun lebih fasih nyanyi lagu-lagu hits remaja. Kalaupun masih ada yang melantunkan lagu anak-anak itupun lagu yang sudah puluhan tahun lalu beredar. Misalnya Bintang Kecil, Pelangi, Topi Saya Bundar, dll. Itu kan produk dua atau tiga dasawarsa lalu. Kebanyakan dari mereka yang menyanyikan lagu2 itu bukan karena keinginan untuk mengenal. Tapi lebih tepatnya dipaksa mengenal oleh guru mereka di TK atau SD.</p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan saya kemudian adalah: kemanakah lagu anak-anak yang dulu begitu berjaya? Ada apa dengan anak-anak <span id="lw_1210652902_1" class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">Indonesia</span>? Ada apa dengan industri musik Indonesia? Tolong bantu saya mencari jawaban.</p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/jangan-biarkan-dangdut-gulung-tikar.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan biarkan dangdut gulung tikar'>Jangan biarkan dangdut gulung tikar</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/sapa-hangat-einstein-kepada-anak-dunia.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sapa Hangat Einstein kepada Anak Dunia'>Sapa Hangat Einstein kepada Anak Dunia</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/kemana-lagu-anak-anak-kita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita dari Batavia...</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/cerita-dari-batavia.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/cerita-dari-batavia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 18:47:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita onani]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofyanr.web.id/cerita-dari-batavia.html</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, ini cerita dari teman saya di Batavia....
Sebut saja Denok. Karena alasan pekerjaan, dia memilih ngekos, kendati rumahnya masih di sekitaran Jakarta. Kebetulan, tempat kos Denok memiliki tetangga yang memelihara seekor monyet. Hari-hari pertama ngekos, dia tidak menemui masalah dengan lingkungan kostnya. Namun setelah sekitar satu minggu, dia merasa ada sesuatu yang beda dari sebelumnya.


Ya, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/keluar-dari-arus-mainstream.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keluar dari arus mainstream'>Keluar dari arus mainstream</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fcerita-dari-batavia.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fcerita-dari-batavia.html" height="61" width="51" /></a></div><p style="text-align: left;">Kawan, ini cerita dari teman saya di Batavia....</p>
<p style="text-align: left;">Sebut saja Denok. Karena alasan pekerjaan, dia memilih ngekos, kendati rumahnya masih di sekitaran Jakarta. Kebetulan, tempat kos Denok memiliki tetangga yang memelihara seekor monyet. Hari-hari pertama ngekos, dia tidak menemui masalah dengan lingkungan kostnya. Namun setelah sekitar satu minggu, dia merasa ada sesuatu yang beda dari sebelumnya.</p>

<p style="text-align: left;"><span id="more-9"></span>
Ya, tiap jam tiga dini hari, monyet tetangganya itu selalu ribut dan mengganggu orang-orang yang lagi enak tidur. Makin hari keributan itu tidak berkurang, malah sebaliknya, si monyet mengeluarkan suara-suara yang semakin memekakkan kuping.
<p style="text-align: left;">Si pemilik merasa sungkan dengan para tetangga. Lantas dia bawa monyet itu ke dokter hewan. Dalam vonisnya dokter hewan bilang kalau si monyet sedang memasuki masa-masa kawin. Dan keributan dini hari adalah bentuk birahi yang tak tersalurkan.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk meredam keributan yang makin menjadi, dokter hewan lantas memberi saran kepada pemilik monyet : pertama dicarikan pasangan kawin, dan kedua, si monyet harus dionani.</p>
<p style="text-align: left;">Kawan, mencari seekor monyet betina di Jakarta bukanlah persoalan yang gampang. Pasalnya, pasar hewan di Jalan Pramuka belakangan ini sangat dipantau ketat oleh petugas Pemprov DKI. Apalagi, isu flu burung yang merebak belakangan ini membuat para petugas semakin memelototi pasar yang berada di bilangan Jakarta Timur itu.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada jalan lain, si monyet harus dionani. Akhirnya, tiap sore sambil bersantai sehabis kerja, si bapak pemilik merogoh selangkangan monyet, mengocok penis monyetnya sampai si monyet orgasme.</p>
<p style="text-align: left;">Hasilnya, si monyet tidak ribut lagi tiap jam tiga pagi...... Itu saja</p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/keluar-dari-arus-mainstream.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Keluar dari arus mainstream'>Keluar dari arus mainstream</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/cerita-dari-batavia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harga Pengetahuan</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/harga-pengetahuan.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/harga-pengetahuan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 19:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofyanr.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[“Aku adalah hamba orang yang mengajariku satu huruf,” demikian Ali putra Abu Thalib pernah berkata, suatu kali. Tentu saja ia tak pernah benar-benar jadi budak. Ia orang merdeka, bahkan kemudian menjadi salah satu dari empat khalifah pengganti Nabi, mertuanya.

Mungkin Ali hendak mengatakan bahwa pengetahuan itu berharga. Begitu berharga sehingga untuk satu huruf-pun, seseorang harus menjadi [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fharga-pengetahuan.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fharga-pengetahuan.html" height="61" width="51" /></a></div>“Aku adalah hamba orang yang mengajariku satu huruf,” demikian Ali putra Abu Thalib pernah berkata, suatu kali. Tentu saja ia tak pernah benar-benar jadi budak. Ia orang merdeka, bahkan kemudian menjadi salah satu dari empat khalifah pengganti Nabi, mertuanya.<span id="more-27"></span>

Mungkin Ali hendak mengatakan bahwa <strong><span style="text-decoration: underline;">pengetahuan itu berharga</span></strong>. Begitu berharga sehingga untuk satu huruf-pun, seseorang harus menjadi budak untuk membayarnya. Dengan diajari sehuruf pengetahuan, seseorang patut kehilangan kebebasan—sesuatu yang sangat berharga; menjadi budak yang harus selalu mematuhi titah sang tuan bahkan, jika dikehendaki, bisa dijual. Secara matematis, kira-kira begini persamaannya: satu huruf pengetahuan=kebebasan.

Atau jika Anda lebih terbiasa menghitung sesuatu dengan uang, cari tahu berapa harga budak belian waktu itu, dan kalikan dengan jumlah huruf pengetahuan yang Anda pelajari dari orang lain. Sejumlah itulah biaya yang harus dibayarkan padanya. Maka bisa dibayangkan berapa banyak yang musti kita bayar untuk berhuruf-huruf pengetahuan yang kita pelajari dari orang lain—sebutlah guru, dosen, ustadz, suhu, atau apapun.

Tapi rasanya Ali tak sedang menetapkan tarif pengajaran. Juga bukan tengah mengajari kita rumus menghitung gaji guru. <em>Toh </em>ia sendiri tak pernah jadi budak. Maka cukup aman rasanya jika saya menganggap Ali tak memaksudkan ucapannya itu difahami secara harafiah. Lagi pula perbudakan memang lazim dipraktikkan kala itu. Dan mungkin karena itulah ia memilihnya sebagai analogi. Pesannya tentu saja tetap sama: ilmu pengetahuan itu berharga. Dan saya menyepakatinya.

Baiklah, <strong><span style="text-decoration: underline;">pengetahuan itu penting</span></strong>. Artinya, kita harus mencari dan mendapatkannya. Persoalannya, bagaimana mencarinya. Dalam literatur epistemologi klasik Cartesian, pengetahuan hanya dapat diperoleh sendiri melalui upaya individual, baik secara rasional maupun empiris. Pengetahuan berdasar informasi dari orang lain sama sekali tak diberi ruang. “Mengetahui, sama halnya mendesain sebuah bangunan, harus dikerjakan oleh satu orang,” demikian Descartes, “jika tidak, hasilnya akan berantakan.”

Tapi, berapakah pengetahuan kita yang tak berasal dari atau dengan bantuan orang lain. Sangat sedikit, pasti. Bahkan nama sendiripun kita tahu dari orang lain, orang tua kita. Karenanya, belakangan mulai dikembangkan teori pengetahuan yang lebih realistis: epistemologi sosial, yang juga mengakui keabsahan pengetahuan berdasar informasi dan otoritas orang lain. Dan, memang begitulah kenyataannya. Sepanjang sejarah, manusia mendapat bagian terbesar pengetahuannya dari orang lain.

Jadi, kalau pengetahuan penting dan berharga, maka pendidikan sebagai jalan memperolehnya juga sama penting dan berharganya. Sampai di sini logikanya masih baik-baik saja. Tapi, setelah melihat dunia sehari-hari, rasanya memang ada yang aneh. Entah bagaimana riwayatnya, pendidikan begitu saja disebangunkan dengan sekolah—formal, tentu saja. Yang lebih membingungkan, pendidikan malah identik dengan selembar kertas yang disebut ijazah.

Saya bukan penganjur <em>de-schooling, </em>dan tak sedang melarang Anda sekolah. Saya sendiri sekolah. Dan benar, di sekolah saya mendapat pengetahuan. Meski tak selalu, memang. Kadang di luar sekolah-lah saya mendapat lebih banyak pengetahuan. Justru karena itu ada yang keliru dengan menyamakan begitu saja pendidikan dengan sekolah, apalagi selembar ijazah. Seakan-akan yang tak berbekal lembaran ijazah adalah mereka yang tak berpendidikan. Dan tak tahu apa-apa.

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/harga-pengetahuan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susupun Bisa Menjajah</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/susupun-bisa-menjajah.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/susupun-bisa-menjajah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 01:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofyanr.web.id/susupun-bisa-menjajah.html</guid>
		<description><![CDATA[Konsumsi susu bayi di masyarakat kita dari tahun ke tahun cenderung meningkat. repotnya, peningkatan konsumsi itu lebih banyak dipengaruhi oleh efek iklan dan pemasaran daripada pemahaman mengenai kesadaran kesehatan yang bersifat kritis.


Heboh penemuan Enterobacter sakazakii pada susu formula bayi oleh para peneliti dari IPB beberapa waktu lalu semestinya mengingatkan kita pada beberapa hal substansial berkaitan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/kemana-lagu-anak-anak-kita.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kemana lagu anak-anak kita?'>Kemana lagu anak-anak kita?</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/hello-world.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dermawan Gadungan'>Dermawan Gadungan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fsusupun-bisa-menjajah.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fsusupun-bisa-menjajah.html" height="61" width="51" /></a></div>Konsumsi susu bayi di masyarakat kita dari tahun ke tahun cenderung meningkat. repotnya, peningkatan konsumsi itu lebih banyak dipengaruhi oleh efek iklan dan pemasaran daripada pemahaman mengenai kesadaran kesehatan yang bersifat kritis.

<span id="more-8"></span>
Heboh penemuan <em>Enterobacter sakazakii </em>pada susu formula bayi oleh para peneliti dari IPB beberapa waktu lalu semestinya mengingatkan kita pada beberapa hal substansial berkaitan dengan susu.

Pertama, kandungan gizi yang terkandung dalam susu olahan, apalagi yang berbentuk powder, hampir sepenuhnya mitos. setelah melewati berbagai proses pengolahan, kandungan gizi dalam susu tidak lagi signifikan. protein dan kalsium dalam susu, misalnya, setelah beberapa tahap pengolahan, akan berubah menjadi kapur.

Kedua, susu olahan sebenarnya tak berbeda dengan junk-food. jika dianalogikan, berbagai nutrisi yang ada dalam susu tak ubahnya seperti sekerat daging dalam impitan burger. maslahatnya lebih kecil daripada mudharatnya.

Ketiga, konsumsi susu bayi di negara-negara dunia pertama sebenarnya bisa dikatakan rendah, apalagi di negara-negara Eropa seperti di Skandinavia. mereka lebih suka memberi ASI daripada mempercayakan anaknya kepada susu binatang. apalagi, di beberapa negara Eropa, misalnya, tidak ada cuti hamil. sebagai gantinya, mereka memberlakukan cuti punya anak, dan itu berlaku baik untuk ibu maupun bapak. lamanya bisa setahun dengan gaji dibayar penuh. jelas, mereka lebih suka mengekspor susunya daripada memberikannya kepada anak-anak mereka sendiri.

Keempat, jangan bayangkan kenaikan konsumsi susu di negeri kita bersifat menyejahterakan para peternak di boyolali atau pangalengan, sebab 80% susu yang diolah di pabrik-pabrik susu kita adalah produk impor (sebagian besar dari Selandia Baru). pemerintah kita hanya meregulasi kandungan lokal sebesar 20% saja, selebihnya ya impor. kasus susu kurang lebih sama dengan industri tempe, dimana kandungan kedelai impor rata-rata 60-70%.Kelima, konsumsi susu bukanlah keharusan, melainkan hanya bersifat suplementer. doktrin empat sehat lima sempurna selama ini agaknya telah ditafsirkan secara keliru. susu bukanlah nutrisi pokok.

Berbagai alasan di atas sangat jelas menunjukkan bahwa susu bukan hanya berisiko secara kesehatan (peningkatan kasus obesitas pada anak balita dalam satu dekade terakhir dipacu oleh kenaikan laku mengkonsumsi susu), melainkan juga ekonomi politik. konsumsi susu hanya menyedot devisa dan memakmurkan petani-peternak negara lain daripada berlaku sebaliknya.Oleh karena itu, bagi para pasangan muda, atau calon bapak-ibu, jangan biasakan anaknya mengkonsumsi susu formula. jika kita ingin anak kita cerdas, perbanyak saja konsumsi protein dan vitamin via sayur, buah, dan ikan-ikan segar, terutama ikan laut.

Ya, beruntunglah orang-orang pantura di jawa barat, bisa makan sea food dan dedaunan tiga kali sehari...

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/kemana-lagu-anak-anak-kita.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kemana lagu anak-anak kita?'>Kemana lagu anak-anak kita?</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/hello-world.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dermawan Gadungan'>Dermawan Gadungan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/susupun-bisa-menjajah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya percaya akan masa depan Indonesia yang lebih baik. . .</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/saya-percaya-akan-masa-depan-indonesia-yang-lebih-baik.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/saya-percaya-akan-masa-depan-indonesia-yang-lebih-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 19:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofyanr.web.id/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Saya percaya akan masa depan Indonesia yang lebih baik. Dan masa depan kita adalah generasi muda. Saya punya impian generasi muda ini benar-benar menyadari bahwa merekalah masa depan Indonesia, dan bahwa mereka dapat menentukan sendiri takdir mereka. Impian saya generasi muda Indonesia adalah individu-individu yang berani berpikir, berani belajar, dan yang paling penting berani memproduksi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/google-trend-demam-euro-2008-di-indonesia.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Google Trend: Demam Euro 2008 di Indonesia'>Google Trend: Demam Euro 2008 di Indonesia</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/kebijakan-privasi-yang-menyesatkan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kebijakan Privasi yang menyesatkan'>Kebijakan Privasi yang menyesatkan</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/harga-pengetahuan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Harga Pengetahuan'>Harga Pengetahuan</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/susupun-bisa-menjajah.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Susupun Bisa Menjajah'>Susupun Bisa Menjajah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fsaya-percaya-akan-masa-depan-indonesia-yang-lebih-baik.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fsaya-percaya-akan-masa-depan-indonesia-yang-lebih-baik.html" height="61" width="51" /></a></div>Saya percaya akan masa depan <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer" class="yshortcuts" id="lw_1205523803_3">Indonesia</span> yang lebih baik. Dan masa depan kita adalah generasi muda. Saya punya impian generasi muda ini benar-benar menyadari bahwa merekalah masa depan <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer" class="yshortcuts" id="lw_1205523803_4">Indonesia</span>, dan bahwa mereka dapat menentukan sendiri takdir mereka. Impian saya generasi muda <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer" class="yshortcuts" id="lw_1205523803_5">Indonesia</span> adalah individu-individu yang berani berpikir, berani belajar, dan yang paling penting berani memproduksi pikiran mereka sendiri. Karena mereka memiliki kebebasan itu.

<span id="more-140"></span>Kebebasan berpikir adalah bentuk kemerdekaan yang  dahsyat yang pernah dimiliki oleh umat manusia.

Tidak akan pernah ada satu orang pun yang mampu menguasai pikiran kita selain diri kita sendiri. Orang lain selalu bisa mencoba mempengaruhi pikiran kita, tetapi tetap kitalah yang bisa memperbolehkannya mengubah cara pikir kita atau pun tidak.

Marilah kita bersama-sama menghormati dan mensyukuri daya pikir dan akal sehat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita dengan satu cara yaitu: menggunakannya.

Semoga berpikir akan menjadi trend yang akan menjadi gaya hidup baru generasi muda <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer" class="yshortcuts" id="lw_1205523803_6">Indonesia</span>. Dan pikiran akan menjadi defenisi baru bangsa <span style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer" class="yshortcuts" id="lw_1205523803_7">Indonesia</span>.

Namun untuk dapat bebas berpikir, kita harus memiliki akses pada segala pengetahuan yang ada. Maka kebebasan untuk memperoleh informasi juga merupakan sesuatu yang asasi. Karena apabila mata kita tertutup, kita tidak akan memikirkan hal hal yang relevan dan aktual. Maka jangan sampai kita menjadi bangsa yang tutup mata."

<br style="font-style: italic" /> <span style="font-style: italic">(hm... mulia sekali ya...)</span>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/google-trend-demam-euro-2008-di-indonesia.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Google Trend: Demam Euro 2008 di Indonesia'>Google Trend: Demam Euro 2008 di Indonesia</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/kebijakan-privasi-yang-menyesatkan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kebijakan Privasi yang menyesatkan'>Kebijakan Privasi yang menyesatkan</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/harga-pengetahuan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Harga Pengetahuan'>Harga Pengetahuan</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/susupun-bisa-menjajah.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Susupun Bisa Menjajah'>Susupun Bisa Menjajah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/saya-percaya-akan-masa-depan-indonesia-yang-lebih-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dermawan Gadungan</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/hello-world.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/hello-world.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 19:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofyanr.web.id/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[ Di sebuah warung soto di kota Solo, seorang dari serombongan pembeli, bergegas menuju kasir untuk mentraktir semuanya. Makanan belum sempat singgah sempurna di perut, tapi orang ini sudah merasa harus buru-buru menunaikan tugas mulia itu. Tapi dermawan ini malah cuma dianggap mencuri start belaka. Karena seorang yang lain, sambil masih tetap di mejanya, segera [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fhello-world.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fhello-world.html" height="61" width="51" /></a></div> <p>Di sebuah warung soto di kota Solo, seorang dari serombongan pembeli, bergegas menuju kasir untuk mentraktir semuanya. Makanan belum sempat singgah sempurna di perut, tapi orang ini sudah merasa harus buru-buru menunaikan tugas mulia itu. Tapi dermawan ini malah cuma dianggap mencuri start belaka. Karena seorang yang lain, sambil masih tetap di mejanya, segera berteriak mengancam si kasir. ''Duitnya jangan diterima. Awas!''</p> <p><span id="more-1"></span></p> <p>Keributan pun terjadi. Saling ngotot, saling tak mau kalah, sampai akhirnya si kasir muncul sebagai penengah. Keduanya kalah. Apa sebab? Karena betapapun cepat dua dermawan itu berpacu ternyata masih kalah cepat dari seorang yang lain lagi, seorang yang diam, tenang tapi efesien. Ia memainkan taktik yang tak terduga. Sebelum adegan makan berlangsung, ia diam-diam telah menyelinap lebih dulu, menyerahkan segepok uang. ''Ini deposit. Untuk bayaran nanti,'' katanya. Gampang ditebak, dialah pemenangnya.</p> <p>Cerita semacam ini, di Indonesia bukan hal baru. Disambangi tetangga tanpa menyediakan minuman, adalah aib bagi keluarga Jawa. Bersilahturahmi Lebaran tanpa menyuguh makan, adalah pelanggaran etika. Maka satu rumah bisa berarti sekali minum dan makan. Berumah-rumah berarti berkali-kali minum dan makan.</p> <p>Dengan tingkat kedermawanan sedemikian rupa, adalah aneh jika Indonesia mengalami tingkat kesenjangan sosial yang parah, tingkat kemiskinan yang menyedihkan, dan tingkat korupsi yang mencengangkan. Tapi illustrasi di bawah ini akan menjelaskan, kenapa dua kutub yang sebetulnya tidak nyambung itu bisa bersatu.</p> <p>Di sebuah pasar di wilayah Jawa Tengah, lima wanita kedapatan sepakat mencuri bersama. Ketika mereka tertangkap dan diinterogasi polisi, apa jawabnya? ''Untuk nyumbang hajat tetangga,'' kata seorang di antaranya.</p> <p>Jadi jelas sudah, masyarakat kita memaliki bakat ''sinkretis'' tidak cuma dalam soal-soal ritual dan spiritual, tapi juga persoalan moral. Jangankan cuma menyatukan dua hal yang berbeda, menggabungkan dua moral yang berkebalikan pun kita jagonya. Kasus pencurian oleh kelompok wanita di atas, adalah contoh sederhana, betapa kederwamanan bisa kita biayai dengan segala cara, termasuk dengan kejahatan.</p> <p>Makin jelaslah, kenapa kedermawanan semacam itu bisa tidak nyambung dengan soal ketenteraman negara dan kemakmuran suatu bangsa. Karena kita bisa sangat baik di sini tapi sangat jahat di situ. Kita bisa menjadi jahat di situ hanya agar bisa berbuat baik di sini. Biarlah saya korupsi besar-besaran dengan memanfatakan jabatan, dengan risiko merusak negara asal di kampung halaman saya bisa mengaspal jalan, bisa membangun masjid dan menyantuni handai taulan.</p> <p>Maka, jangan heran jika seorang rampok dikabarkan mati, ia bisa saja ditangisi oleh banyak orang yang merasa berhutang budi. ''Sebetulnya dia sangat dermawan. Perasaannya lembut, dia tidak bisa melihat orang lain kekurangan.''. Atau seorang tersangka korupsi milyaran rupiah bisa melenggang bebas dan dikampanyekan jadi presiden.</p> <p>Cerita tentang koruptor dermawan ini juga sealiran dengan legenda tentang bandit-bandit besar yang di rumah ternyata adalah bapak yang lembut, suami yang romantis dan manusia yang sentimentil bila melihat adegan mengharukan di TV. Seorang suami yang selingkuh dan mentelantarkan anak istri, bisa tetap mengaku remuk-redam jika bayangan wajah anak-anaknya muncul di malam sepi, jika wajah istri yang setia berkelebat dalam lamunannya.</p> <p>Tapi semua sifat mulia toh cuma sentuhan human interset belaka. Selebihnya bandit itu tetap bandit yang gampang membunuh orang segampang ia meludah. Selebihnya, tukang selingkuh itu tetap memilih menggauli selingkuhannya katimbang kembali ke rumah menyantuni anak istrinya. Bahwa semua orang di dalam hatinya mengaku punya kemuliaan, adalah benar dan boleh-boleh saja. Tapi bahwa kemuliaan itu tak pernah benar-benar dipraktekkan, di situlah letak persoalannya.</p> <p>Melihat betapa begini banyak sikap dermawan yang secara aneh bisa hidup berdampingan dengan banyaknya kerusakan, mudah kita simpulkan bahwa bakat berderma itu belum sanggup menjadi aset negara, belum sanggup menjadi kontributor kesejahteraan bersama. Maka jangan buru-buru menyimpulkan jika seseorang gemar mentraktir orang, mengaspal jalan, membagikan sembako dan kaos oblong membuktikan bahwa dia adalah seorang yang mulia, layak diidolakan dan patut dijadikan pemimpin</p> 

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/hello-world.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nama</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/nama.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/nama.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 04:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[Nama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofyanr.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[ Untuk keponakanku yang baru saja diberi nama ORANG memanggil aku: Minke. Namaku sendiri....Sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan karena gila mysteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain.'' Itulah pembuka kisah luar biasa dalam novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Dan, Anda pasti sepakat, nama memang layak disembunyikan [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fnama.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fnama.html" height="61" width="51" /></a></div> <p><strong>Untuk keponakanku yang baru saja diberi nama</strong></p> <p><em>ORANG memanggil aku: Minke. Namaku sendiri....Sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan karena gila mysteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri di hadapan mata orang lain.</em>''</p> <p>Itulah pembuka kisah luar biasa dalam novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Dan, Anda pasti sepakat, nama memang layak disembunyikan ketika ia belum benar-benar bisa menjadi penanda sejati bagi orang-orang yang memiliki harkat dan martabat.</p> <p><span id="more-26"></span> <br/>Nama, dengan demikian, memang bukan topeng. Ia adalah tanda yang mewakili semesta persoalan yang kompleks. Karena itu, jangan heran jika pekerjaan pertama yang dibebankan Tuhan kepada Adam adalah memberi nama kepada segala fenomena. Jangan kaget pula jika manusia perlu memberikan 99 nama yang berkaitan dengan sifat Tuhan.</p> <p>Aha, memberi nama memang bukan hanya pekerjaan Adam atau siapa pun yang percaya kepada tanda dan makna. Orang-orang Macondo -daerah imajinatif dalam novel Gabriel Garcia Marquez, S<em>eratus Tahun Kesunyian</em> atau <em>Cien Anos de Soledad</em> - pun harus memberikan nama kepada segala benda yang bertabrakan di mata, rasa, dan jiwa.</p> <p>Pada waktu itu, tulis Marquez, dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama, dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya. Ah, bagaimana kita hendak menunjuk benda-benda di balik bumi dan langit? Bagaimana kita harus menyebutkan nama-nama benda yang tak bisa dipandang oleh keindahan mata manusia? Karena itu, nama akhirnya memang harus melekat kepada apa pun yang berelasi dengan kehidupan manusia. Sebab, bukankah hanya manusia yang sibuk berelasi dengan tanda, penanda, petanda, ikon, indeks, identitas, dan segala yang harus mereka tafsirkan?</p> <p>Lalu, bagaimana nasib orang Macondo ketika gagap berelasi dengan nama-nama? Beberapa tahun kemudian mereka hilang ingatan setelah terserang wabah insomnia. Hanya seorang yang benar-benar selamat, dan dialah yang menulis benda-benda dengan namanya masing-masing: meja, kursi, jam, dinding, ranjang, sapi, kambing, babi, ayam. Kemudian pada jalan utama desa, setelah ingatan mereka mulai pulih, mereka memasang papan dengan tulisan besar-besar ''Tuhan Masih Ada''.</p> <p>Saya tidak tahu apakah di Jawa ada orang-orang yang menghubungkan keberadaan jeneng dengan eksistensi Tuhan. Yang jelas dalam sebuah kuliah, Dr Damardjati Supadjar pernah bilang, '' Jeneng kuwi ora gur tetenger, naging uga donga.'' Ya, nama itu bukan sekadar tanda, namun juga doa.</p> <p>Adakah eksistensi Tuhan dalam nama-nama orang Jawa? Mungkin ada. Ketika X, tetangga saya melaksanakan ibadah haji di tanah suci beberapa tahun lalu, seorang pedagang di Mina, memberikannya nama: Musa. Si X gemetar mendapatkan nama yang identik dengan ketaatan dan kedigdayaan seorang nabi yang pernah membelah Laut Merah itu. Hingga sekarang, X tak berani menggunakan nama itu, sebab ia takut. "Saya hanya zarah, sekadar debu", katanya suatu ketika.</p> <p>Sebab, kata penduduk sekampung, Y, kakak perempuannya, sakit keras hanya lantaran semula bernama Marsini. Adiknya, Z, lumpuh dan hampir mati, hanya lantaran semula bernama Trimo. Kini kedua saudaranya sehat dan hidup sejahtera. ''Ah, itu kan takhayul!'' teriak para rasionalis sejati.</p> <p>Ya, mungkin X dan sebagian besar masyarakat Jawa tak rasional. ''Mungkin dia takut menggunakan nama Musa karena ada tokoh PKI bernama Muso,'' ujar seorang teman seraya menunjukkan beberapa data betapa setelah Orde Baru berjaya nama Aidit tidak laku lagi bagi masyarakat Jawa. Wah, nama pun akhirnya berkaitan juga dengan dunia politik.</p> <p>Nama, dalam tradisi Jawa rupa-rupanya harus Pas dengan strata sosial. Pas dengan doa yang diharapkan bakal terwujud. Itu pun tak boleh berlebihan. Namun, anehnya, saya pernah mendapatkan petuah dari almarhum Simbah Kakung yang justru bertolak belakang dari premis kebanyakan wong Jawa terhadap nama.</p> <p>Kata orang tua, ''Yen pingin mburu jenang, aja ngoyak jeneng. Yen pingin ngoyak jeneng, aja mburu jenang. Yen pingin cedhak jeneng, suwungna murka. Yen pingin cedhak Gusti Allah, suwungna jeneng.''</p> <p>Dalam Bahasa Indonesia, menurut pemahaman saya, artinya kira-kira seperti ini. Jika ingin mengejar kekayaan, jangan mengejar nama baik. Jika ingin mengejar nama baik, jangan mengejar kekayaan. Jika ingin dekat dengan ketenaran, hilangkan keserakahan. Jika ingin dekat dengan Tuhan, hilangkan ke-Aku-an.</p> <p>Apakah di hadapan Tuhan, semua nama tak berguna? "Whats in a name" kata pujangga Inggris William Shakespeare. Apakah di hadapan Tuhan kita harus jadi big zero. Apakah Tuhan tak menghendaki nama-nama ketakaburan indah yang kita sangka sebagai doa dan pengharapan itu? Saya takut menjawabnya.</p> 

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/nama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
