<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Web Design Indonesia&#187; Indonesia, Web Developer, Web Designer, Freelance Web Designer, Web Consultant, SEO Services, Wordpress Template, Web Template</title>
	<atom:link href="http://www.sofyanr.com/tag/kartini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sofyanr.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 14:20:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengenang Kartini Lagi</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-lagi.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-lagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 02:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnal Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sofyanr.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[
Riwayat Kartini, seperti yang saya tulis di sini, memang penuh paradoks dan ironi. Tulisan-tulisan Kartini juga banyak memuat anakronisme; suatu hal yang bisa dipahami mengingat dia cuma perempuan berusia duapuluhan (saat ia mulai menulis) yang hanya lulusan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri.
Saat peluangnya belajar ke Eropa pupus sudah, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-i.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenang Kartini (bagian pertama)'>Mengenang Kartini (bagian pertama)</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/kekerasan-lagi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kekerasan (lagi?)'>Kekerasan (lagi?)</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/tentang-hari-kebangkitan-nasional.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tentang Hari Kebangkitan Nasional'>Tentang Hari Kebangkitan Nasional</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/tribute-to-yadi-si-penjaga-hutan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tribute to Yadi Si Penjaga Hutan'>Tribute to Yadi Si Penjaga Hutan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fmengenang-kartini-lagi.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fmengenang-kartini-lagi.html" height="61" width="51" /></a></div><p style="text-align: left;"></p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.sofyanr.com/wp-content/uploads/2008/04/ra_kartini.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-332 alignleft" title="RA Kartini" src="http://www.sofyanr.com/wp-content/uploads/2008/04/ra_kartini-150x150.jpg" alt="RA Kartini" width="150" height="150" /></a>Riwayat Kartini, seperti yang saya tulis <strong><a title="Mengenang Kartini" href="http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-i.html">di sini</a></strong>, memang penuh paradoks dan ironi. Tulisan-tulisan Kartini juga banyak memuat anakronisme; suatu hal yang bisa dipahami mengingat dia cuma perempuan berusia duapuluhan (saat ia mulai menulis) yang hanya lulusan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri.<span id="more-121"></span></p>
<p style="text-align: left;">Saat peluangnya belajar ke Eropa pupus sudah, dengan tulus ia meminta kepada pemerintah kolonial agar mengalihkan beasiswa untuknya kepada seorang pemuda Sumatera yang cakap dan pandai tapi kekurangan biaya. Ironisnya, pemuda Sumatera yang dikemudian hari kita kenal sebagai H. Agus Salim, justru menolak tawaran beasiswa tersebut. Bagi Salim, beasiswa itu tak lebih sebagai pernyataan belas kasihan yang menyedihkan, selain sebagai strategi kolonial untuk mengkampanyekan keberhasilan politik etisnya.</p>
<p style="text-align: left;">Tetapi saat menjadi istri Bupati Rembang itulah Kartini justru bisa merealisasikan sebagian cita-citanya untuk menyediakan pengajaran bagi perempuan bumiputera. Sang Suami memang dikenal sebagai bupati yang sudah berpikiran maju dan mendukung ide-ide Kartini. “Saya mengucap syukur, membiarkan saya dibimbing oleh seorang yang ditunjukkan oleh Allah Yang Mahakuasa menjadi kawan saya seperjalanan menempuh hidup…,” tulisnya kepada keluarga Abendanon. Lupakah Kartini pada ucapan telengasnya tentang perkawinan paksa dan poligami dahulu? Entahlah.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi kisah tragis belum tuntas sampai di situ. Saat sedang berbahagia menjadi istri kesekian lelaki yang berpikiran maju, lelaki yang mendukung sebisanya cita-cita dirinya, Kartini harus menjalani kodrat biologisnya sebagai perempuan: mengandung, lalu melahirkan. Dan, petaka itu pun datang: lima hari setelah melahirkan, Kartini pupus, selamanya pergi meninggalkan Jawa yang ia cintai sekaligus ia benci “setengah mati-separuh hidup”.</p>
<p style="text-align: left;">Meski begitu, zaman ini memang layak memberinya hormat, sebuah standing ovation yang tulus. Bukan untuk kehebatannya, tapi untuk sebuah “keyakinan yang dipercayai dan kemudian ia perjuangkan”, sekalipun ia mengerti betapa tak terkira hambatan dan kesukaran yang akan dihadapinya.</p>
<p style="text-align: left;">Ia tahu benar, di Jawa masa itu, perempuan sungguh-sungguh terbenam di titik subordinasi yang paling rendah. Ikhtiar untuk mengentaskannya tentu butuh waktu panjang, dan maha sukar. Tapi ia tetap melangkah. Ia seakan lantang teriak: “Harus ada yang memulai pengajaran bagi perempuan bumiputera, dan itu adalah saya, seorang perempuan bumiputera juga!” Di situ, Kartini sudah bicara tentang kewajiban perempuan bagi kaumnya.</p>
<p style="text-align: left;">Pernah suatu hari, seorang pejabat kolonial menyayangkan kenapa Kartini seorang perempuan, padahal jika lelaki ia bisa berbuat lebih banyak. Kartini tampak marah besar. Bukan apa-apa, sebab bagi Kartini, “Pada mulanya dan pada akhirnya, saya memang seorang perempuan. Lengkapnya perempuan Jawa yang tertindas.”</p>
<p style="text-align: left;">Memikirkan hal itu, saya Ingat Simone de Beauvoir. “Jika saya ingin mendefiniskan diri,” tulis Beauvior di risalahnya yang termasyhur, Second Sex, “hal pertama yang harus saya katakan: Saya adalah seorang perempuan!”</p>
<p style="text-align: left;">Karena semua alasan itulah kita dengan senang hati merayakan kelahirannya, juga segala jerih-payah yang telah ditorehkannya; sebuah torehan kerja yang membikin Pramoedya, lewat Panggil Aku Kartini Saja, memberi Kartini predikat sebagai “Pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin”.</p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-i.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenang Kartini (bagian pertama)'>Mengenang Kartini (bagian pertama)</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/kekerasan-lagi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kekerasan (lagi?)'>Kekerasan (lagi?)</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/tentang-hari-kebangkitan-nasional.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tentang Hari Kebangkitan Nasional'>Tentang Hari Kebangkitan Nasional</a></li>
<li><a href='http://www.sofyanr.com/tribute-to-yadi-si-penjaga-hutan.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tribute to Yadi Si Penjaga Hutan'>Tribute to Yadi Si Penjaga Hutan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenang Kartini (bagian pertama)</title>
		<link>http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-i.html</link>
		<comments>http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-i.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 16:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sofyanr</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan]]></category>
		<category><![CDATA[april]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan puisi kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Puisi RA Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi ibu kartini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kartini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi r a kartini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi RA KARTINI]]></category>
		<category><![CDATA[puisi raden ajeng kartini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi tentang ibu kartini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi tentang kartini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi tentang ra kartini]]></category>
		<category><![CDATA[sajak kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sofyanr.web.id/ibu-kita-bukan-kartini-i.html</guid>
		<description><![CDATA[April ini saya coba membayangkan Kartini sedang asyik membaca Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem, sepucuk sajak Joko Pinurbo di kumpulan puisinya, Celana. Salah satu bagian sajak itu berbunyi: ...Kaudengarkah suara gamelan/ tak putus-putusnya dilantunkan/ di pendapa agung yang dijaga/ tiang-tiang perkasa/ hanya untuk mengalunkan/ tembang-tembang lara?

Saat membaca bait itu, saya membayangkan Kartini [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-lagi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenang Kartini Lagi'>Mengenang Kartini Lagi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;"><a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fmengenang-kartini-i.html"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fwww.sofyanr.com%2Fmengenang-kartini-i.html" height="61" width="51" /></a></div><img class="size-full wp-image-332 alignleft" title="RA Kartini" src="http://www.sofyanr.com/wp-content/uploads/2008/04/ra_kartini.jpg" alt="RA Kartini" width="177" height="224" />April ini saya coba membayangkan Kartini sedang asyik membaca Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem, sepucuk sajak Joko Pinurbo di kumpulan puisinya, Celana. Salah satu bagian sajak itu berbunyi: ...Kaudengarkah suara gamelan/ tak putus-putusnya dilantunkan/ di pendapa agung yang dijaga/ tiang-tiang perkasa/ hanya untuk mengalunkan/ tembang-tembang lara?<span id="more-22"></span>

Saat membaca bait itu, saya membayangkan Kartini sedang bersandar di kursi goyang berukir indah. Matanya mungkin langsung memejam. Tapi ingatannya melanglang pergi, menyambangi bertumpuk kenangan yang telah jauh. Tumpukan kenangan dari kesilaman yang dikenangnya dengan perih: saat ia dipingit pada usia menginjak dua belas tahun.

Lewat sepucuk surat untuk nona Zeehandelaar, Kartini mengisahkan kenangannya saat menjalani masa “tutupan” alias pingitan itu. “Saya dikurung di dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar…. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu. Hanya yang saya tahu, masa itu amat sengsaranya,” tulisnya di surat bertanggal 25 Mei 1899.

Saat itu, cuma tetabuhan gamelan yang menjadi hiburannya. Dan bagi seorang yang sedang menanggung siksa dan lara, alunan gamelan itu kedengaran bukan seperti suara dari tembaga, kayu atau kulit kendang, melainkan lebih terasa sebagai suara yang keluar dari sukma manusia, meresap ke dalam hati, kadang berujud keluh-kesah, sebentar lagi meratap-menangis, sekali-kali seperti gelak tawa. Saya kira, itulah sebabnya kenapa Kartini pernah menyebut alunan suara gamelan sebagai “bunyi jelita yang sedih”.

Tapi Kartini memang tidak menyerah. Semampunya ia menampik dan melawan semua-mua penindasan yang ditimpakan padanya, baik yang mengatasnamakan tradisi, agama, atau apapun. Dalam perlawanan sebisanya itu, Kartini kerap menuai hasil bagus. Tetapi kita juga tahu, pada akhirnya ia tak kuasa mengatasi belitan hambatan dan kesukaran yang mengepungnya. Inilah yang jarang dimengerti: kehidupan Kartini sebenarnya adalah kehidupan yang penuh paradoks; kehidupan di mana kegagalan dan kesuksesan datang hilir mudik.

Tentang perkawinan, misalnya. Dengan telengas ia pernah menulis begini, “Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas!” Kartini paham benar bagaimana rasanya kawin paksa dan dimadu karena ia adalah putri seorang perempuan yang menjadi istri kesekian Bupati Jepara. Dan ia percaya betul, kalau “…adat Timur lama itu benar kukuh dan kuat, tetapi dapat juga rasanya saya lebur, saya patahkan!”

Tapi apa mau dibilang, sekalipun ia yakin segala peradatan itu bisa dipatahkan, Kartini pada akhirnya harus menerima takdir menjadi istri kesekian Raden Adipati Djaja Adiningrat, Bupati Rembang. Akibat perkawinan itu, Kartini terpaksa harus pula menelan pil pahit: gagal pergi belajar ke Eropa. Padahal, ia pernah berkata, “Pergi ke Eropa! Sampai napasku yang penghabisan akan tetap jadi cita-citaku”. Tapi, ketika kesempatan itu terpampang lebar, perkawinan yang tak diinginkannya itu datang tanpa bisa ditenggang.

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-lagi.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenang Kartini Lagi'>Mengenang Kartini Lagi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-i.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
