Tentang Hari Kebangkitan Nasional

Beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja saya menemukan artikel terkait tentang Hari Kebangkitan Nasional di web eramuslim. Ide utama dari artikel tersebut adalah gugatan Rizki Ridyasmara, si penulis, tentang keabsahan tanggal 20 Mei di peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang tak lain adalah hari lahir organisasi Budi Utomo.

Pertanyaan semacam ini bukan muncul baru-baru ini. Barangkali sudah di tanyakan ribuan atau bahkan jutaan kali dalam berbagai kesempatan. Tetralogi Pram, yang dikuatkan oleh Sang Pemula, saya rasa merupakan usaha Pram untuk memberi tawaran soal mula kebangkitan Nasionalisme di Indonesia. Jika dikumpulkan lebih banyak lagi, banyak karya akademik yang akan menyuarakan nada yang sama.

Ini memang pertanyaan menarik. Cuma, menurut saya, yang terpenting bukanlah mengubah tanggal kebangkitan nasional atau mengubah apa yang diperingati. Apakah tanggal 20 Mei sebagai Harkitnas juga masih penting? Masih membuat kita bergelora? Saya rasa tidak 100% tepat. Paling-paling, hari-hari begini (hari peringatan nasional), dimanfaatkan oleh banyak kalangan untuk mengangkat popularitas dengan iklan di media elektronik dan media cetak. Tentu saja dengan jargon yang sering membuat kita tidak tergugah sama sekali. Malah tak jarang bikin jengkel

Menurut saya, yang terpenting adalah memperjelas semua peristiwa sejarah. Melepasnya dari interes-interes, apapun itu. Jika sudah demikian, mau diperingati sebagai apa terserah. Kalau kita punya pikiran mengubah hari apa menjadi hari anu, atau mengubah, misalnya Hari Kebangkitan Nasional, jadi tanggal selain 20 Mei, kita akan mengubah banyak hari besar.

Jika alasan Harkitnas yang jatuh 20 Mei itu bias Jawa (karena memeringati BO),  hal yang sama juga harus kita lakukan untuk memperingati Kartini. Tanya orang Sunda, apa yang mengesankan dari selir Jepara ini? Apakah karena dia menulis surat ke keluarga Belanda, ia bisa dianggap membebaskan perempuan? Kalau mereka mau memilih, tentu mereka lebih suka dengan Hari Dewi Sartika atau Hari Nyi Ageng Serang, atau bahkan Hari Dayang Sumbi. Dan, pasti Anda akan mendapatkan jawaban yang beragam jika Anda tanya ke orang Aceh, orang Minang, orang Madura, dst.

Bagi saya, kebangkitan nasional adalah sebuah proses dan tonggaknya tak bisa disederhanakan dengan menetapkan tanggal tertentu dari seubah momen tertentu, dari perkumpulan tertentu. Saya pun merasa 'luccu' ketika kelahiran BO dimaknai demikian luar biasa seperti yang tersaji di media belakangan ini. Tetapi bangsa, kata Ben Andersson, salah satunya merupakan hasil penyulingan artefak budaya masa lalu untuk kepentingan masa kini. Bangsa membutuhkan tonggak itu. Maka, ditetapkanlah 20 Mei itu yang dianggap tonggak kebangkitan nasional.

Saya sependapat, tak penting mengganti atau merevisi tanggal Hari Kebangkitan Nasional berdasarkan legitimasi sejarah yang lain. Bagi saya BO tidak lebih membanggakan dibanding SI, Indische Partij dan Perhimpoenan Indonesia. Tapi, Dr. Soetomo, ketua BO pertama, yang saat ini dikonstruksikan wah itu, bagi saya pun, belum bisa dianggap mempunyai peran lebih besar dari Tiga Serangkai (Ki Hajar Dewantara, Setya Budi, Dr Tjipto), HOS Tjokroaminoto, Marco Kartodikromo, atau Tirto Adhi Soerjo.

Hanya saja, ketika seabad lewat kebangkitan nasional dirayakan dengan megah, tapi sebagian besar orang sudah tidak lagi merasa tergugah, pastinya ada masalah dengan konstruksi tentang bangsa, setidak-tidaknya tentang kebangkitan bangsa.

Mungkin sebagian kesalahan terbesar boleh ditimpakan pada kekuatan besar yang paling dominan menghadirkan makna kebangkitan nasional hari-hari ini (termasuk pemerintah SBY). Jangan-jangan pembayangan tentang Indonesia, sudah tak lagi sama? jangan-jangan sudah banyak yang tak membayangkan Indonesia? Tentu ini kekhawatiran serius ketika kita hendak 'melanjutkan Indonesia'. Bukan begitu kawan?

Related posts:

  1. Gunung Eyjafjallajökull, Tragedi Lingkungan dan Hari Bumi

4 Responses to “Tentang Hari Kebangkitan Nasional”

  • nabila says:

    SI itu,,bukannya akar dari muhamadiyah?
    HOS cokroaminoto kan pemimpinnya?bukannya beliau itu tokoh besar ya?bahkan jd gurunya Soekarno..
    trus,,sekolah2 muhamadiyah itu yg malah sampe sekarang masih ada kan?

    silakan dikoreksi klo saia salah...hehe

  • ogi says:

    yang penting, mari kita bangkit :D
    bangkit dari kubur kaliii

  • WULAN says:

    GAK USA GONTOK2AN MASALAH HARI ATAU TANGGAL. PERLU KITA INGAT, LEBIH BANYAK POSITIFNYA DARIPADA NEGATIFNYA....

  • ugahari says:

    kebangkitan nasional???

    bukan boedi oetomo atau syarikat islam yang perlu dicari tau tentang siapa yang paling riil melakukan gerakan,atau yang mana salah satunya yang paling berpengaruh terhadap bangkitnya perlawanan kaum pribumi terjadap dominasi penjajah,tapi bagaimana kita membawa spirit itu kembali ke masa kita,untuk menghilangkan semua dominasi,dan eksploitasi antar manusia yang masih menggerogoti bangsa ini.Ingat "dulu kita dijajah dengan penurunan pasukan,tapi sekarang lebih halus tapi sangat biadab,penjajahan dengan PENANAMAN MODAL"terima kasih.tetap berlawan dan semangat melakukan pemberontakan terhadap segala dominasi kapitalisme dalam setiap lini kehidupan manusia...

Leave a Reply

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Categories
Archives
TopOfBlogs
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes